Friday, June 29, 2007

Art Camp (angkatan I)

Opening the Art-Camp pada 28 Juni kemarin sedikit terlambat karena cuaca pada hari kamis itu hujan lebat, dan tiga peserta tidak dapat hadir. Tetapi yang lainnya yaitu enam peserta (Moko, Lius, Daniel, Theresia, pak Joseph dan pak Roni) menunjukan semangat ber'kesenian' ..he he it seems "like hungry to paint"

Diskusi dan pembahasan juga terjadi dalam studio ini, diantaranya tentang makna sebuah karya seni, how to express, elemen seni rupa hingga tentang marketing the works.

Dimulai dari 'warming-up' menggunakan charcoal (arang) di atas kertas hingga bebebera lembar dan kemudian mulai menggunakan elemen warna. Selanjutnya medium Kanvas dan cat akrilik menjadi sasaran ekspresi para peserta.

Dengan atmosfir yang 'kondusif' dan ke'buas'an peserta art camp ini tanpa terasa waktu bukan halangan,.... eksplorasi ide, teknis dan tentu saja ekspresi saling susul menyusul. Pada 18.15 peserta terakhir meninggalkan studio dengan keadaan masih 'masgul' mungkin karena merasa belum tercapai 'ekspresi'nya

Kami harap melalui Art Camp ini, para peserta menemukan 'berlian' dalam diri anda, sesuatu yang beharga dengan begitu akan bersyukur atas 'kemanusiaan' kita.


Foto-fotonya bisa dilihat disini ya...






Komentar para peserta tentang artcamp ini:

Pak Roni - Melukis Dengan Hati
Kali ini saya ingin cerita mengenai pembelajaran melukis yang saya terima kemarin dari Pak Yassir di ruang workshop Gedung R lantai 6 Fakultas Seni Rupa dan Disain, Universitas Tarumanagara.

Mungkin anda berpikir, Pak Roni cerita apa lagi nih? Makin gado-gado aja postingan di blog ini. Tidak fokus di bisnis lagi.

Ya, begitulah saya. Saya punya minat yang banyak. Hidup saya mengalir begitu saja. Mengikuti "kata hati", bukan "kata otak". Makanya sekarang blog ini saya beri tema "Business and Beyond".

Sekarang cerita mengenai lukisan. Kemarin soal olah raga. Besok cerita apa lagi nih? Mungkin saja saya akan cerita tentang misteri UFO, Segitiga Bermuda atau Conspiracy Theory. Hahaha.... Soalnya saya juga suka dengan hal begituan.

Namun, pada intinya saya berminat tentang banyak hal. Terutama yang berhubungan dengan seni dan hal lain yang bersifat human interest. Saya suka lukisan, musik, sastra, film, pokoknya yang membangun cita rasa keindahan dan mengolah perasaan.

Jadi, ceritanya kemarin saya dan Pak Joseph Hartanto (salah seorang founder TDA) mulai mengikuti Art Camp, kursus melukis kepada pakarnya, Pak Yassir, seorang perupa yang juga dosen di Untar.

Melukis adalah salah satu obsesi saya sejak lama. Beberapa hari lalu saya cerita mengenai keinginan ini di blog. Dan, law of attraction bekerja lagi. Bu Doris yang sering baca blog ini menginformasikan tentang Art Camp yang digagas oleh Pak Yassir, suaminya.

"Mulai saja Pak. Jangan dipikir pakai otak kiri. Pakai otak kanan. Mengalir aja", demikian instruksi Pak Yassir. "Buatlah garis dengan bebas dan luwes, seperti anda biasa membuat tanda tangan. Kalau sudah seperti itu, berarti itulah garis anda yang sebenarnya".

Mulailah saya menarik-narik garis di atas kertas dengan menggunakan arang. Set...set...set. Gak tau deh bentuk apa jadinya. Pokoknya mengalir aja, nggak mikir. Saya menikmati aja.

"Garis-garis yang Pak Roni buat sudah kelihatan tegas. Sekarang sudah bisa mencoba pakai akrilik", komentar Pak Yassir setelah melihat coretan saya.

Yes, saya pun kemudian mulai memutar-mutar kuas dengan warna-warna akrilik yang disediakan itu. Warna yang disediakan hanya tiga, yaitu biru, merah dan kuning. Biar sederhana dan lebih kreatif memadu warna, demikian alasan Pak Yassir.

Dan memang terbukti, dengan terbatasnya pilihan itu, saya jadi lebih bebas berkreasi tanpa dibebani terlalu banyak pilihan warna.

Dalam beberapa menit, lukisan akrilik pun jadi. Saya minta komentar Pak Yassir (sayang saya tidak bisa menampilkan fotonya, karena kamera digital saya baru saja hilang).

"Komposisi warnanya sudah oke. Cuma, dalam mewarnai seperti dibatasi oleh garis-garis yang Pak Roni buat. Terobos saja Pak. Garis-garis itu jangan dijadikan pembatas", jelasnya.

Aha, ini ada kaitannya dengan bisnis. Think out of the box, katanya. Kadang-kadang kotak itu kita sendiri yang ciptakan.

Melukis itu seperti bergulat dengan diri sendiri. Memulai melukis sama dengan memulai pekerjaan. Hasilnya bisa bagus atau jelek. Dalam prosesnya, kita harus berupaya dengan kreatif untuk keluar dari masalah itu dengan sukses.

Misalnya, kita salah memilih warna. Maka kita harus bisa keluar dari masalah itu dengan berupaya keras mengubahnya, menggantinya atau menambahkan sesuatu pada objek itu sehingga menjadi lebih baik dan melegakan hati.

Wah, kemarin banyak sekali pembelajaran saya dapatkan. Yang jelas, saya begitu menikmatinya sehingga hampir lupa waktu. Diskusi dengan Pak Yassir juga telah memperkaya wawasan saya tentang seni lukis dari yang selama ini saya bayangkan.

Terima kasih Pak Yassir atas sharing ilmu dan diskusinya.

Salam FUUUntastic!

Wassalam,

Roni,
Owner, Manet Busana Muslim

NB - Ternyata Pak Joseph itu tidak hanya mahir sebagai pebisnis. Tapi dia juga punya passion di bidang seni lukis. Bahkan sejak kuliah dia sudah membiayai sendiri biayanya dari berjualan lukisan dari Surabaya. Kemarin Pak Joseph saya todong untuk bikin blog. Silakan baca ceritanya di sini.


Pak Joseph - Melukis = Berbisnis ???


Akhirnya hari ini 28 Juni 2007, saya berhasil mewujudkan salah satu obsesi saat remaja saya, melukis. Hari ini saya belajar melukis, bersama putri saya Nadya dan pak Roni (Jendral TDA) , dibimbing oleh pak Yassir Malik , suami dari bu Doris Nasution. Ternyata dalam pembicaraan kami dengan pak Yassir tentang dasar2 melukis, saya dapat menyimpulkan bahwa para pelukis hebat dan sukses mempunyai kesamaan dengan para pebisnis hebat dan sukses. Yaitu bahwa :
1. Bakat/potensi seseorang untuk melukis hanya menyumbang 10%, sisanya 90% adalah latihan. Semakin sering seorang pelukis berlatih, maka coretannya semakin matang. Demikian juga halnya dengan para pebisnis sukses, dalam bidang apapun, semakin sering mereka berlatih, jatuh bangun dalam membangun bisnis, semakin matang dan tajam, intuisi dan keahlian bisnis mereka.
2. Beranilah dalam berexperimen, jangan takut gagal. Hasil lukisan kita akan jauh lebih baik dan hidup, jika kita berani menambahkan satu dua detil yang berbeda di beberapa bagian. Demikian juga dalam berbisnis, kita harus berani melakukan experimen, mencoba sesuatu yang berbeda, yang membuat produk atau jasa kita mempunyai nilai lebih, unik dan berbeda dari yang lain.
3. Sejalan dengan The Secret dan Quantum Ikhlas. Bahwa kita harus memperhatikan perasaan kita (feeling) , jika kita ingin sukses dalam mewujudkan impian2 kita. Demikian juga halnya dengan melukis, amatlah sulit untuk melukis, jika kita hanya mengandalkan pikiran kita, melukis harus dimulai dengan memperhatikan perasaan / feeling kita saat itu. Hasil lukisan saya terus terang saja kalah hidup jika dibandingkan dengan lukisan puteri saya Nadya, semua orang memuji warna2 dalam lukisannya yang hidup. Tentu saja demikian karena anak kecil biasanya spontan, tanpa berpikir dalam melakukan sesuatu, hanya mengandalkan perasaannya saja. Dalam berbisnispun kita harus memperhatikan perasaan kita, usahakan agar perasaan dan pikiran kita selalu sejalan dan selaras, sehingga kita jauh lebih mudah dalam menjalankan bisnis kita.

No comments: